Saat Kampus Bertemu UMKM: Jalan Baru Ekonomi Rakyat Jawa Tengah
Saat Kampus Bertemu UMKM: Jalan Baru Ekonomi Rakyat Jawa Tengah
Suara Merdeka – Rabu, 7 Januari 2026 | 06:15 WIB
Oleh Prof. Ir. Tole Sutikno, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN.Eng, Guru Besar Teknik Elektro, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
EKONOMI Jawa Tengah digerakkan oleh tangan-tangan sederhana yang bekerja setiap hari tanpa banyak sorotan. Dari bengkel kayu di Jepara, sentra batik di Pekalongan dan Solo, industri logam kecil di Ceper dan Tegal, hingga dapur-dapur UMKM kuliner di sudut kampung kota Semarang, ekonomi rakyat tumbuh dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun di tengah perubahan zaman, UMKM menghadapi tantangan yang kian kompleks. Biaya produksi meningkat, persaingan pasar makin ketat, tuntutan kualitas dan efisiensi terus naik, sementara akses terhadap teknologi dan pengetahuan masih terbatas.
Dalam situasi ini, pendekatan lama tidak lagi cukup. Dibutuhkan jalan baru, dan di situlah makna penting saat kampus bertemu UMKM. Selama ini, kampus dan UMKM sering berjalan di jalurnya masing-masing. Perguruan tinggi sibuk dengan riset, jurnal, dan seminar. UMKM sibuk dengan produksi harian, mengejar pesanan, dan menjaga usaha tetap hidup. Keduanya sama-sama bekerja keras, tetapi jarang benar-benar bertemu. Padahal, persoalan UMKM sesungguhnya sangat dekat dengan dunia akademik. Efisiensi energi, peningkatan kualitas produk, otomasi sederhana, hingga pengelolaan proses produksi. Di sisi lain, riset akademik membutuhkan konteks nyata agar tidak berhenti sebagai teori.
Ketika dua dunia ini bertemu secara setara, lahirlah peluang besar bagi ekonomi rakyat. Peran kampus dalam konteks UMKM bukan sebagai “ahli yang menggurui”, melainkan sebagai mitra yang mendengarkan. Akademisi perlu hadir dengan bahasa yang sederhana, solusi yang aplikatif, dan pendekatan yang sesuai realitas lapangan. UMKM tidak membutuhkan teknologi canggih dan mahal. Yang dibutuhkan adalah teknologi tepat guna: alat hemat energi, sistem kontrol sederhana, desain proses kerja yang lebih efisien, serta pendampingan yang berkelanjutan. Di sinilah kampus memiliki keunggulan, khususnya melalui riset terapan dan pengabdian kepada masyarakat. Sebaliknya, UMKM adalah ruang belajar yang nyata bagi akademisi. Bengkel, dapur produksi, dan sentra kerajinan adalah “laboratorium hidup” yang menyajikan persoalan riil ekonomi rakyat—sesuatu yang tidak selalu ditemukan di buku teks.
Contoh Nyata Kolaborasi
Di berbagai daerah Jawa Tengah, kolaborasi semacam ini mulai menunjukkan hasil. Pendampingan sederhana terkait efisiensi energi mampu menurunkan biaya listrik bengkel kecil. Pengaturan suhu dan waktu produksi membantu UMKM kuliner menjaga konsistensi rasa. Sistem kerja yang lebih rapi meningkatkan kualitas produk batik dan kerajinan.
Perubahan-perubahan ini mungkin tampak kecil, tetapi dampaknya besar bagi usaha skala mikro. Penghematan biaya memberi ruang bernapas. Kualitas yang lebih konsisten membuka akses pasar yang lebih luas. Inilah makna “naik kelas” yang sesungguhnya—bukan membesar secara instan, tetapi menguat secara bertahap. Agar kolaborasi kampus dan UMKM berdampak luas, diperlukan sinergi dengan kebijakan pemerintah daerah.
Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk menjadikan kolaborasi ini sebagai strategi pembangunan ekonomi rakyat. Program pemberdayaan UMKM akan jauh lebih efektif jika berbasis pada hasil riset dan pendampingan akademisi. Sebaliknya, kampus membutuhkan dukungan kebijakan agar riset terapan dapat diterapkan secara berkelanjutan di lapangan. Sinergi ini bisa diwujudkan melalui pelatihan bersama, pendampingan teknologi tepat guna, audit energi sederhana, hingga fasilitasi akses pembiayaan dan pasar. Dengan pendekatan ini, kebijakan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi hadir nyata di bengkel dan dapur UMKM.
Dampak Sosial yang Lebih Luas
Kolaborasi kampus dan UMKM tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga sosial. Ketika UMKM menjadi lebih efisien dan berdaya saing, lapangan kerja lokal terjaga. Anak muda memiliki alasan untuk tetap berkarya di daerahnya. Urbanisasi dapat ditekan, dan kesejahteraan masyarakat meningkat secara lebih merata. Inilah esensi pembangunan ekonomi rakyat: bertumpu pada kekuatan lokal, berbasis pengetahuan, dan berorientasi jangka panjang.
Tentu, kolaborasi ini tidak bebas tantangan. Perbedaan budaya kerja, bahasa akademik yang terlalu teknis, serta keterbatasan waktu pelaku UMKM sering menjadi kendala. Karena itu, kolaborasi harus dibangun dengan kesabaran, komunikasi yang sederhana, dan komitmen jangka panjang.
Pendekatan bertahap menjadi kunci.
Perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berkelanjutan dibanding program besar yang tidak membumi. Saat kampus bertemu UMKM, sesungguhnya kita sedang membangun jembatan antara ilmu pengetahuan dan kehidupan rakyat. Inilah jalan baru ekonomi Jawa Tengah, jalan yang tidak mengabaikan tradisi, tetapi memperkuatnya dengan pengetahuan dan teknologi yang tepat guna.
Kolaborasi ini bukan sekadar proyek atau program sesaat, melainkan strategi jangka panjang untuk memperkuat ekonomi rakyat.
Ketika kampus hadir di tengah UMKM, dan UMKM menjadi bagian dari ekosistem keilmuan, Jawa Tengah memiliki fondasi kuat untuk tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan.


